Minggu, 12 Februari 2017 - 15:10:48 WIB
Pendidikan Berbasis Siaga Bencana, Dr. Masri Kudrat Umar
Diposting oleh : S2 TP
Kategori: Mr-Roz3R - Dibaca: 5389 kali

PENDIDIKAN BERBASIS SIAGA BENCANA

 

A.Pendahuluan

Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku. Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku. Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku, marilah kita bersatu Indonesia berseru. Hiduplah tanahku hiduplah negeriku bangsaku rakyatku semuanya bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia raya.

Tentu dari lagu kebangsaan Indonesia tersebut mencerminkan anjuran untuk tetap bersatu membangun yang lebih baik. Jika Indonesia didefinisikan, maka banyak sekali artinya. Indonesia adalah nama salah satu Negara di asia tenggara, letak geografis Indonesia berada di zona cincin api pasifik dan dikepung oleh lempeng Eurasia serta lempeng indo-australia yang bergerak aktif, yang engakibatkan 83% wilayah Indonesia rawan bencana, gepa bumi, letusan gunung merapi. Juga termasuk Negara yang memiliki 2 musim, Negara yang kaya akan sumber daya manusia, dan lain-lain.

Di Indonesia juga beragam kekayaan seperti kata ibu pertiwi “ hutan, sawah, gunung, lautan simpanan kekayaan”. Tengok saja Negara Indonesia dikelilingi oleh samudra, lautan, dan 150 sungai besar maupun kecil yang melintasi wilayah padat penduduk, teluk, danau. Indonesia juga terdapat beberapa gunung yang aktif maupun mati, di dunia ini adan 800 gunung berapi aktif dan Negara yang mempunyai gunung berapi paling banyak adalah Indonesia yakni 200 buah.[1] Banyak juga pohon yang menutupi suatu wilayah daratan membentuk hutan. Hutan menghasilkan banyak produk bagi asyarakat, termasuk kayu, makanan, kosetika, dan obat-obatan. Dipinggir-pinggir jalan berbagai daerah kawasan Indonesia terdapat sawah-sawah yang membentang, bagai asesoris belahan Negara ini.

Namun jangan terlena dan terbuai oleh setiap keindahan. Terkadang keindahan justru akan menyebabkan malapetaka.  Kita ingat dengan meletusnya gunung krakatau tahun 1883 mengakibatkan tsunami dan menghilangkan 36000 jiwa. [2] bencana tsunami di Aceh, mengakibatkan korban bergelimpangan 170 ribu jiwa. Gempa di Yogyakarta tahun 2006 menewaskan 5.782 jiwa. Tahun 2010 terjadi erupsi merapi yang memakan korban 151 jiwa dan jebolnya tanggul di desa Ngepos akibat luapan lahar dingin. itu belum termasuk bencana banjir, tanah longsor, angin topan dan sebagainya.

Bencana memang tidak dapat diprediksi kedatangannya, tidak bisa dicegah, serta tidah bisa ditolak. Dengan bencana banyak sekali korban jiwa, harta, kerusakan yang engerikan, datangnya wabah penyakit, kehilangan saudara, daya traumatis   yang tinggi, dan lain-lain.

Kita yang selalu menghirup udara segar bumi damai Indonesia, yang selalu mencari nafkah dan bekerja, mengelola kekayaan alam, belajar, berbahagia di antara keindahan Indonesia,  tentu akan tersentak jika tiba-tiba bumi damai kita mengalami fenomena alam.

Sebagai pelajar yang bergelut didunia pendidikan tentu paradigma kepedulian terhadap kejadian alam yang silih berganti akan terus meningkat. Jangan mau kalah dengan Negara jepang yang terkenal dengan Negara bencana, disana terdapat kebijakan dalam dunia pendidikan untuk penanaman siaga bencana dalam kurikulum pembelajaran di setiap lembaga pendidikan. Hal ini terbukti minimnya korban diwaktu terjadi bencana. Sedang di Indonesia? Apakah ada kebijakan seperti itu? Padahal Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik dunia, memiliki lebih dari 200 gunung berapi aktif, Oleh karena itu Indonesia juga salah satu Negara yang rawan terhadap risiko bencana.

Risiko bencana erat hubungannya dengan system lingkungan, yaitu suatu bagian dari pilar pembangunan berkelanjutan. Dampak bencana bukan hanya pada lingkungan yang terbangun namun juga pada lingkungan alam. Banyak ekosistem yang telah rusak menyebabkan kurangnya daya tahan dan kemampuan untuk menangkis gangguan alam, sehingga membentuk bencana yang alami yaitu bencana yang semakin sering terjadi dan semakin parah karena tindakan manusia. Dengan merusak hutan, mengalihkan sungai, mengurangi lahan basah, dan membuat iklim tidak stabil dapat mengurangi ikatan suatu jaringan pengaman ekologis yang komplek.[3] 

Menurut saya pemerintah seyogyanya membuat kebijakan terhadap pendidikan, supaya setiap lembaga pendidikan mengintregasikan kurikulum yang sudah biasa berjalan dengan kurikulum siaga bencana. Kesiapsiagaan menghadapi bencana melalui pelajaran akan membentuk masyarakat yang sadar dan siaga bencana. Memasukkan materi siaga bencana dalam kurikulum adalah upaya yang efektif, mengingat fungsi dan peran dunia pendidikan yang tidak hanya sebagai ruang transfer ilmu naun juga internalisasi nilai. Memasukkan ilmu tentang bencana kedalam kurikulum dan didukung simulasi menghadapi bencana merupakan upaya profentif atau pencegahan yang  tujuannya supaya anak-anak yang rentan terhadap resiko bencana ini menjadi anak yang tangguh, artinya anak-anak tetap sabar menghadapi cobaan ini, daya traumatisnya dapat diminimalisir, mampu bertahan pasca bencana, mampu menolong sesama, mampu meminimalisir resiko bencana seperti datangnya wabah penyakit, mengurangi kemungkinan bencana, mengurangi korban akibat bencana serta meringankan penderitaan korban.[4]

Dari data termaktub terang bahwa masyarakat dikawasan yang rentan terhadap resiko bencana sangat mengindikasikan bahwa bencana susulan menjadi ancaman. Apa tindakan selanjutnya? Jangan menunggu bencana datang, jangan pasrah begitu saja. Tentu dengan mengintegrasikan pendidikan berbasis siaga bencana, dalam siaga bencana dibutuhkan kecepatan dan ketepatan tindakan,[5] jadi  sub-nya pra bencana, saat bencana, pasca bencana. Karena anak terkenal memiliki keterbatasan untuk mengatasi bencana sehingga sangat bergantung dari pihak-pihak diluar dirinya supaya dapat pulih kembali dari bencana.[6] Dengan adanya berbasis siaga bencana diharapkan anak jauh dari anggapan tersebut.

Kurikulum siaga bencana dilembaga pendidikan adalah investasi jangka panjang yang akan melahirkan pemikir dan dan pembuat kebijakan masa depan yang adaptif terhadap bencana yang meminimalkan dampak destruktifnya.

 

B. PENDIDIKAN SIAGA BENCANA

1.      Pengertian Pendidikan Siaga Bencana

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menciptakan. Pendidikan mempunyai dua dimensi yang saling bertautan. Pertama, pendidikan merupakan hak asasi manusia yaitu bahwa manusia tanpa pendidikan tidak dapat mewujudkan kemanusiaannya. Kedua, pendidikan merupakan suatu proses yaitu menjadi manusia tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi merupakan suatu proses kemanusiaan dalam kebersamaan dengan sesama manusia.[7]

Siaga adalah upaya kehati-hatian dalam segala hal atau serangkaian untuk mengantisipasi melalui langkah tepat guna dan berdaya guna.[8]

Bencana itu terkait dengan segala musibah dan masalah yang yang menimpa kita dalam skala yang besar dan efek yang luar biasa. Banyak sekali bencana yang mengintari kehidupan kita. Ada bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, dan kekeringan. Ada juga bencana disebabkan ulah manusia seperti pengeboman, peperangan, kecelakaan beruntun, kecelakaan pesawat, dan kebakaran. Sifat bencana dating secara tiba-tiba, cepat dan membawa korban yang besar.[9]

Bencana berasumsi buruk, bencana bersumber dari bahasa inggris dis mempunyai arti sesuatu yang buruk (unfavorable) dan astro mempunyai arti bintang (star). Bencana (Distater) mempunyai arti peristiwa buruk yang secara tiba-tiba dan serius (serious sudden misfortune) atau kecelakaan yang sangat buruk (terrible accident).[10]

Apapun bentuk bencana semua datang dari Allah. Sebagaimana difirmankan dalam surah Ath-Thagaabun ayat 11 yang berbunyi nsebagai berikut: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan member petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Maka bencana yang terjadi dapat dimaknai bukan sebagai cobaan semata, namun dapat menjadi momentum spiritual bagi setiap manusia kembali kejalan Allah. Momentum tersebut dapat menyempurnakan ibadah, jati diri, dan relasi social lainnya. Sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 155-156 yang berbunyi: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”[Al Baqarah 155-156]

Bencana selain membawa ancaman juga membawa berkah bagi yang lain. Menurut Irwan Abdullah, masyarakat dapat berusaha mempertahankan pola kehidupan yang mereka jalani dan ingin mengembalikannya setelah bencana menimpa. Sebaliknya ada yang melihat adanya peluang-peluang (oportunitu) baru setelah terjadinya bencana.[11]

2.      Faktor Penyebab Bencana

a.        berdasarkan waktu

Yaitu bencana yang terjadi secara tiba-tiba, misalnya gempa bumi, tsunami, angin atau badai, erupsi gunung berapi, tanah longsor. Sedangkan bencana yang terjadi secara periah misalnya kekeringan, rawan pangan, kerusakan lingkungan dan lain-lain.

b.      berdasar penyebab

Yaitu bencana karena fenomena alam misalnya penyebab pergeseran lapisan bumi maka akan terjadi gempa bumi dan tsunami, akibat aktifitas gunung berapi mengakibatkan semburan awan panas, hujan abu, erupsi atau letusan. Adanya perubahan iklim atau musim mengakibatkan angin ribut dan angin topan. Adanya kemarau yang berkepanjangan mengakibatkan kekeringan dan kebakaran.

Juga karena ulah manusia yang berhubungan dengan lingkungan misalnya penebangan hutan tak terkendali, perusakan area penyanggah daratan dan lautan, polusi air, udara tanah. Juga ulah manusia yang berhubungan dengan kelalaian misalnya kebakaran kilang minyak, kjebocoran reactor nuklir, kebocoran gas industri, dll. Sedangkan yang berhubungan dengan pertentangan antar manusia misalnya perang, konflik sosial, dll.

Bencana banjir, tanah longsor, kebakaran perumahan perkotaan itu masuk kategori bencana kombinasi dari penyebab bencana diatas.[12]

3.      Ancaman bencana di Indonesia

Semua bencana datang dari Tuhan, namun ketika Tuhan mendatangkan bencana tidak langsung berucap “kun fayakun”. Semua ada prosesnya, ibarat adanya bayi dalam kandungan butuh proses yang tidak pendek. Dalam pentransferan ilmu terhadap anak didik terkait siaga bencana mulanya menjelaskan faktor terjadinya bencana tujuannya agar anak memahami proses dan lebih meningkatkan kesiagaan terhadap bencana.

Bencana di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Bencana yang ada di indonesia antara lain:

a.       Gempa bumi dan tsunami

Gempa bumi merupakan kejadian yang relatif. Bencana gempa bumi terjadi disepanjang palung samudra atau retakan didaratan yang disebut sesar, yang terjadi dibeberapa perbatasan lempeng. Saat batuan yang ada diperbatasan lempeng perlahan-lahan saling bertumbukan, tekanan menumpuk akhirnya bebatuan hancur, yang melepaskan energi dalam dalam bentuk gelombang seismik. Getaran menyebar menembus bumi, dari pusat (episentrum) gempa bumi, yang mungkin terletak jauh didalam bumi atau dekat dengan permukaan.[13]

 Tsunami adalah gelombang besar dan berpotensi menghancurkan, ini terjadi karena adanya gempa bumi bawah laut yang mengakibatkan surutnya air laut, maka dalam jangka waktu 20 sampai 30 menit gelombang air laut akan pasang dengan gelombang yang dahsyat gelombang ini bergerak dengan kecepatan sapai 800 km/jam tetapi mungkin tidak terdeteksi di lautan lepas. Pada perairan yang dangkal, gelombang berkembang menjadi dinding air raksasa yang tingginya bisa mencapai 30m menyerang daerah pedalaman dan menenggelamkan segala sesuatu yang dilewatinya. Sistem peringatan telah dikembangkan pada tahun 1948 didaerah pasifik, yang sering dilanda tsunami. Peringatan beberapa jam sebelum gelombang datang bisa memungkinkan suatu wilayah untuk dievakuasi sehingga memperkecil korban.

Bencana gempa bumi dan tsunami pada umumnya menimbulkan kerugian harta benda dan jiwa dalam skala besar dan butuh waktu yang lama untuk melakukan rahabilitasi dan rekonstruksi. Hal ini sangat memprihatinkan karena peristiwa yang terjadi dalam kurun singkat dapat menghancurkan bangunan dan infrastruktur yang merupakan hasil pembangunan puluhan tahun.[14]

b.      Letusan gunung merapi

Gunung merapi saat ini 129 aktif dan 500 tidak aktif. Gunung merapi aktif di Indonesia merupakan 13% dari seluruh gunung merapi di dunia. 70 gunung diantaranya merupakan gunung berapi aktif yang rawan meletus dan 15 gunung berapi yang kritis. Saat ini 10% penduduk indonesia bermukim di kawasan rawan gunung merapi.

Indonesia berada di daerah iklim tropis yang memiliki musim hujan dan kemarau. Disamping bahaya letusan langsung berupa muntahan dan material-material atau gas beracun, dalam musim penghujan gunung merapi dapat menimbulkan bahaya tidak langsung berupa aliran lahar atau perpindahan material vulkanik yang membahayakan.

Erupsi gunung merapi terjadi saat batuan cair (magma) terdorong naik dari dalam bumi dan dipaksa keluar melalui kawah gunung merapi. Ketika magma mencapai udara, magma tersebut berubah menjadi lava, mengalir menuruni sisi gunung. Terkadang erupsi erapi melemparkan batuan, lava, dan debu ke udara.

c.       Banjir

Banjir merupakan bencana yang selalu terjadi setiap tahun terutama pada musim hujan. Berdasarkan kondisi morfologinya, bencana banjir disebabkan oleh relief bentang alam indonesia yang sangat bervariasi dan banyaknya sungai yang mengalir diantaranya. Populasi penduduk Indonesia yang semakin padat yang dengan sendirinya membutuhkan ruang yang memadai untuk kegiatan penunjang hidup yang semakin meningkat secara tidak langsung merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya banjir.

Penebangan hutan yang tidak terkontrol dapat meningkatkan aliran air permukaan yang tinggi dan tidak terkendali sehingga terjadi kerusakan lingkungan didaerah satuan wilayah sungai. Penebangan ini juga memicu terjadinya banjir.

d.      Tanah longsor

Bencana tanah longsor di Indonesia banyak terjadi di daerah yang memiliki derajat kemiringan lereng tinggi. Bencana ini terjadi pada saat curah hujan tinggi dan daerah rawan longsor adalah arena pegunungan bukit. Longsor yang menimbulkan korban juga kadang terjadi di terowongan atau sumur pengeboran di areal pertambangan.

Hampir sebagian besar tanah tropis bersifat mudah longsor karena tingkat pelapukan batuan di daerah ini sangat tinggi dan komposisi tanah secara fisik didominasi oleh material lepas dan berlapis serta potensial longsor. Kestabilan tanah ini sangat dipengaruhi oleh kerusakan hutan penyangga maka wilayah rawan longsor semakin bertambah.   

e.       Kekeringan

Musim kemarau mempunyai potensi bencana kekeringan. Bencana ini menjadi masalah serius jika menimpa daerah-daerah produsen tanaman pangan seperti yang terjadi di Bojonegoro dimana akibat kekeringan sawah seluas kurang lebih 1.000 hektar tidak memperoleh pasokan air sehingga gagal panen.

Kekeringan juga menyebabkan permasalahan pada penyediaan energi karena menurunnya energi yang dapat dihasilkan oleh pembangkit listrik, terutama pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang menyangga penyediaan energi listrik.

Kekeringan juga memicu datangnya wabah penyakit tropis seperti malaria dan demam berdarah.

f.        Kebakaran hutan

Hutan adalah wilayah pepohonan yang luasnya lebih kecil. Kebakaran hutan bisa terjadi secara almiah, saat tumbuhan sangat kering setelah berbulan-bulan tidak turun hujan. Seringkali manusia bertanggung jawab terhadap terjadinya kebakaran dengan menyalakan api unggun secara sembarangan atau bahkan kadang-kadang dengan membakar hutan secara disengaja. Banyak pohon-pohon dan tumbuhan lain memperbarui dengan cepat pasca kebakaran tetapi margasatwa sangat berpengaruh.

Kebakaran hutan merupakan bencana yang sering terjadi. Kebakaran hutan menimbulkan dampak hutan cukup besar dalam hal kerusakan ekologis, menurunnya keanekaragaman hayati, merosotnya nilai ekonomi hutan dan produktifitas tanah, perubahan iklim mriko atau global, menurunnya kesehatan masyarakat dan terganggunya transportasi darat, sungai danau, laut serta udara.

 Kebakaran hutan dan lahan dapat disebabkan oleh faktor alam maupun kegiatan manusia seperti pembukaan lahan. Tingkat kesejahteraan dan pendidikan masyarakat di sekitar hutan yang masih rendah merupakan faktor yang dapat turut menyebabkan kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran hutan lebih terarah lagi pada pengusaha /pemegang hak penguasaan hutan yang melakukan penebangan kayu tanpa mengindahkan peraturan dan lingkungan.[15]

g.       Epidemi, wabah dan kejadian luar biasa

Epidemi, wabah dan kejadian luar biasa merupakan ancaman yang diakibatkan oleh menyebarkan penyakit menular yang berjangkit di suatu daerah tertentu.pada skala besar, epidemi/wabah/KLB dapat mengakibatkan meningkatnya jumlah penderita penyakit dan korban jiwa. Beberapa wabah penyakit yang pernah terjadi di Indonesia dan sampai sekarang masih harus terus diwaspadai antara lain demam berdarah, malaria, flu burung, anthraks, busung lapar dan HIV/AIDS. Wabah penyakit pada umumnya sangat sulit dibatasi penyebarannya, sehingga kejadian yang pada awalnya merupakan kejadian lokal dalam waktu singkat bisa menjadi bencana nasional yang banyak menimbulkan korban. Faktor yang memicu bencana ini karena kondisi lingkungan yang buruk, perubahan iklim, makanan dan pola hidup masyarakat.

h.       Kegagalan tehnologi

Gagalnya sebuah sistem teknologi yang mengakibatkan terjadiny malapetaka teknologi (technological disaster) selalu bersumber pada kesalahan sistem (system error) yang bersumber pada desain sistem yang tidak sesuai dengan kondisi di mana sistem itu bekerja. Hal ini terjadi karena perancangan sistem yang gagal mempertemukan system teknis dan sistem sosial. Hal yang demikian sering terjadi di Indonesia dan menjadi bencana yang mengakibatkan kerugian jiwa seperti kecelakaan transportasi (kapal laut, pesawat udara dan kereta api), kecelakaan industri (kebocoran gas, keracunan dan pencemaran lingkungan) dan kecelakaan rumah tangga (hubungan arus pendek listrik dan kebakaran). Kegagalan teknologi transgenik juga merupakan salah satu ancaman potensial terkait dengan posisi Indonesia sebagai pasar yang terbuka terhadap produkproduk transgenik.

i.         Kerusuhan sosial

Kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia yang terdiri dari beraneka ragam suku, ras, golongan, bahasa, agama dan etnis merupakan salah satu aset nasional yang bernilai tinggi sekaligus merupakan kondisi yang sangat rawan. Kondisi ini sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan tertentu untuk memulai terjadinya konflik. Kerawanan terhadap konfl ik dalam masyarakat Indonesia diperburuk dengan tingginya kesenjangan ekonomi dalam masyarakat serta rendahnya kualitas pendidikan masyarakat. Hal ini juga terkait dengan menurunnya rasa nasionalisme dalam masyarakat seperti yang terjadi di beberapa daerah yang ingin melepaskan diri dari NKRI.

4.      Pengurangan Risiko Bencana

Agar dapat terlaksana dengan efektif dan efi sien, upaya pengurangan risiko bencana di Indonesia perlu didukung dengan landasan yang kuat dengan mengacu pada kesepakatan-kesepakatan internasional tersebut dan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Pengurangan Risiko Bencana dilakukan dengan tujuan:

1. Meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap bencana alam, teknologi, lingkungan dan bencana social

2. Mewujudkan komitmen pemerintah dalam mengurangi risiko bencana terhadap manusia, kehidupan manusia, infrastruktur sosial dan ekonomi serta sumber daya lingkungan

3. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan pengurangan risiko bencana melalui peningkatan kemitraan dan perluasan jaringan upaya pengurangan risiko bencana

4. Mengurangi kerugian ekonomi dan sosial akibat bencana

Dalam Konferensi Pengurangan Bencana Dunia (World Conference on Disaster Reduction) yang diselenggarakan pada bulan Januari tahun 2005 di Kobe, menghasilkan beberapa substansi dasar dalam mengurangi kerugian akibat bencana, baik kerugian jiwa, sosial, ekonomi dan lingkungan. Substansi dasar tersebut perlu menjadi komitmen pemerintah, organisasi-organisasi regional dan internasional, masyarakat, swasta, akademisi dan para pemangku kepentingan terkait lainnya. Strategi yang digunakan untuk melaksanakan substansi dasar tersebut antara lain:

1. Memasukkan risiko bencana dalam kebijakan, perencanaan dan program-program pembangunan berkelanjutan secara terpadu dan efektif, dengan penekanan khusus pada pencegahan, mitigasi, persiapan dan pengurangan kerentanan bencana

2. Pengembangan dan penguatan institusi, mekanisme dan kapasitas kelembagaan pada semua tingkatan, khususnya pada masyarakat sehingga masyarakat dapat meningkatkan ketahanan terhadap bencana secara sistematik

Substansi dasar yang selanjutnya merupakan prioritas kegiatan untuk tahun 2005- 2015 antara lain:

1. Meletakkan pengurangan risiko bencana sebagai prioritas nasional maupun daerah yang pelaksanaannya harus didukung oleh kelembagaan yang kuat

2. Mengidentifi kasi, mengkaji dan memantau risiko bencana serta menerapkan system peringatan dini

3. Memanfaatkan pengetahuan, inovasi dan pendidikan untuk membangun kesadaran keselamatan diri dan ketahanan terhadap bencana pada semua tingkatan masyarakat

4. Mengurangi faktor-faktor penyebab risiko bencana

5. Memperkuat kesiapan menghadapi bencana pada semua tingkatan masyarakat agar respons yang dilakukan lebih efektif

Tindak lanjut ini telah dilakukan di beberapa negara dan kawasan di antaranya di kawasan negara-negara Kepulauan Pasifi k yang telah menetapkan Framework for Action 2005-2015: An Investment for Sustainable Development in Pacifi c Island Countries; kawasan Afrika membentuk Africa Advisory Group on Disaster Risk Reduction dan menetapkan African Regional Platform of National Platform for Disaster Risk Reduction; dan di kawasan Asia telah disepakat dokumen Beijing Declaration on the 2005 World Conference on Disaster Reduction. Pada lingkup negara-negara ASEAN telah disepakati ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response.

Dalam Undang-Undang No.24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, dikenal pengertian dan beberapa istilah terkait dengan bencana; diantaranya mitigasi, tanggap darurat bencana, rehabilitasi, rekonstruksi dan pemulihan. Pertama, mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana. Kedua, tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi penyelamatan, evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan serta pemulihan prasarana dan sarana. Ketiga, rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan public sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana. Keempat, rekonstruksi adalah pembangunan kembali sarana dan prasarana, kelembagaan pada wilayah pasca bencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, social dan budaya, tegaknya hokum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca bencana. Kelima, pemulihan adalah kegiatan untuk mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana dan sarana dengan melakukan upaya rehabilitasi.

Dari landasan diatas dapat diidentifikasi sebagai pebelajaran siaga bencana dengan berbagai siklus bencana:

1.      pra bencana

Sebelum terjadi bencana, langkah pertama adalah kesiapsiagaan yaitu upaya penggunaan kemampuan untuk secara tepat dan cepat merespon bencana dengan penyusunan rencana tanggap darurat bencana, pengembangan system peringatan dini, peningkatan kemampuan. Langkah kedua adalah mitigasi yaitu upaya  untuk mengurangi akibat ancaman bencana dengan pengelolaan air bersih, pembangunan tanggul banjir dan tempat evakuasi, penghijauan lereng yang rawan longsor.

Misalkan gempa, langkah awal sebelum terjadi gempa adalah

a.       mengenali daerah sekitar tempat tinggal

b.      ketika masuk kesebuah gedung atau bangunan, perhatikan dimana letak pintu keluar, tangga darurat atau cara-cara keluar jika sewaktu-waktu harus enyelamatkan diri

c.       perhatikan tempat-tempat yang aman untuk berlindung ketika gempa

d.      perhatikan tempat berbahaya pada saat terjadi gempa contoh dekat atau dibawah candela kaca, pilar atu tiang

e.       catat dan simpan noor-noor telepon penting yang harus dihubungi saat terjadi gempa.

f.        Matikan kran air, kompor, gas dan listrik setelah selesai digunakan. 

2.      saat bencana

Saat bencana terjadi maka cepat tanggap, dan melakukan rehabilitasi

Misalkan, dalam pembelajaran langkah-langkah yang diajarkan:

a.      ketika dirumah, berusaha menyelamatkan diri dan keluarga, berlindung dibawah meja agar tidak terkena bendaq jatuh, lindungi kepala dengan apa saja (papan, bantal)

b.      ketika diluar rumah, dengan merunduk dan lindungi kepala, jauhi gedung dan tiang, meuju daerah terbuka, jangan melakukan apapun sampai keadaan tenang.

c.       Jika digunung atau pantai jauhi daerah lereng

d.      Jika dipantai, naiklah keperbukitan.

3.      pasca bencana

Melakukan rekonstruksi

Aplikasi dalam pebelajaran:

a.      jika masih didalam ruangan, segera keluar

b.       periksakeadaan diri

c.       Bertindak sesuai hibauan dari sumber yang terpercaya

Bencana tidak dapat dihentikan namun dapat diantisipasi, antisipasi adalah ruh dari pengurangan risiko bencana. Dalam mengurangi risiko bencana dimulai sejak pra bencana dengan mengerti dan memahami proses penanggulangan bencana, saat bencana dengan pengambilan tindakan yang tepat saat terjadi bencana, pasca bencana dengan kegiatan penanggulangan bencana.[16]

5.      Strategi Siaga Bencana

Dalam pembelajaran siaga bencana dilembaga pendidikan harus dengan membudidayakan pengurangan risiko bencana bagi komunitas sekolah.  langkah awal dengan fase Awarenes. Fase ini langkah pertamanya dengan memberikan kepekaan kepada komunitas sekolah bahwa pengurangan risiko bencana merupakan hal penting dengan memberikan pelatihan dan pemahaman kepada para guru, pegawai serta murid. Guru yang mendominasi pentingnya untuk mendapatkan sentuhan pengurangan risiko bencana karena guru adalah agent of change (agen perubah) yang dapat merubah kondisi di sekolah.Langkah kedua, mensosialisasikan progam siaga bencana dalam berbagai bentuk kegiatan yang bersifat umum dan menyenangkan.

Fase selanjutnya fase understand. Fase ini dilakukan oleh guru dengan cara mengintegrasikan pengurangan risiki bencana dalam mata pelajaran atau ekstrakulikuler.

 Fase ketiga adalah fase internalisasi. Fase ini dilakukan dalam bentuk diskusi kelompok siswa dan kegiatan belajar mengajar. Dalam kelompok ini, guru dan murid akan belajar secara aktif. Jika pemahaman urgensi pengurangan risiko bencana telah terinternalisasi, maka kebutuhan lembaga untuk menyusun rencana aksi dan rencana akan dapat terlaksana secara parsipatif.

Dengan demikian, lembaga pendidikan siap pada fase keempat yaitu fase aksi. Aksi dapat dilakukan dengan melakukan perubahan-perubahan disekolah sehingga pengurangan risiko bencana benar-benar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan sekolah. Untuk itulah pihak sekolah sangat penting memasukkan progam pengurangan risiko bencana dalam rencana aksi sekolah. RAS yang merupakan rencana aksi komunitas sekolah, merupakan jelmaan rencana aksi PRB yang juga ada di level nasional (RAN), propinsi(RAD), serta komunitas desa (RAK). RAS akan menjadi panduan bagi warga sekolah untuk melakukan usaha PRB secara continyu dan mandiri.

Pendidikan siaga bencana dapat  dibawa dalam cakupan yang lebih luas dengan melibatkan sekolah di gugus yang sama, dimana sekolah akan dapat bekerjasama untuk menyusun upaya PRB. Upaya pengurangan risiko bencana disekolah tidak akan berhenti hanya di suatu kawasan dan satu waktu saja. Hanya upaya yang berkelajutan dan peran serta banyak pihak yang akan benar-benar dapat mewujudkan sekolah siaga bencana.




321 Komentar :

m88Cvf
11 September 2017 - 19:55:23 WIB

Many blackjack players blow their profit on another casino game abdominal muscles day they win big.

Add to that the thrill in every spin, and you also can state
that roulette is but one ideal boredom killer.
Stopping or scaling back on problem and deeply ingrained behaviours will probably generate cravings for
substances or temptations to spend.
M88Cvf
11 September 2017 - 20:32:26 WIB

As recently as December 2011, consumers witnessed a significant victory towards
gambling online, in particular for poker (and this can be described as game of skill instead of chance).
As soon since the majority of states follow inside footsteps of places including Nevada, it is
going to hopefully pave the way for a totally regulated gambling environment that offers players the assistance
and security they may have always been pursuing.
Other players and staff can be quite irritated by and contemptuous of your mistakes, especially if it spoils their play.
Fun88
12 September 2017 - 02:18:18 WIB

Gaming sites often allow deposits by Pay - Pal for residents from the
UK as well as a array of European countries where gambling online
is legal, while residents in the USA and other countries are awaiting the required legislation hopefully inside the near future.

Banking and Customer Support - Lucky Nugget uses the Poc-Cyber Services Banking Processor and
accepts Pounds, Euros and Dollars. Stopping or scaling
back on problem and deeply ingrained behaviours is likely to generate cravings for substances or temptations to spend.
link fun88
12 September 2017 - 09:36:39 WIB

Moreover, once you usually do not win, and you usually don't, you already know
you've got only made things that much worse. If you've a betting idea
that you think that work, go on and try it. This is the statistic,
around 5% of social gamblers, are problem gamblers or addicts.
M88cvf
12 September 2017 - 15:45:23 WIB

Gaming sites often allow deposits by Pay - Pal for residents of the UK plus a variety of European countries where internet gambling is legal,
while residents in the USA and other countries are awaiting the mandatory laws and regulations hopefully inside near future.
I think that I was born by having an addictive tendency and I shall
die with one. Other players and staff can be very irritated by and contemptuous of your respective
mistakes, particularly if it spoils their play.
Generic cialis
12 September 2017 - 16:35:00 WIB

p tomato cialis 20 mg vierteln exception generic Cialis
f soil pzn cialis 20mg setting [url=http://hqcialismog.com/]http://hqcialismog.com/[/url] cialis en suisse sans ordonnance positive
M88Cvf
12 September 2017 - 16:46:26 WIB

There you will notice that although slots game bets will count as 100% towards your bonus play through requirement, only 2% of one's Blackjack bets should
go towards this. Banking and Customer Support -
Lucky Nugget uses the Poc-Cyber Services Banking Processor
and accepts Pounds, Euros and Dollars. Other players and staff can be quite
irritated by and contemptuous of the mistakes, particularly when it
spoils their play.
cialis 20mg
12 September 2017 - 17:22:21 WIB

cialis 5 mg prezzo in francia
cialis generic
cialis 5 mg etkileri
[url=http://cialisres.com/]cialis online[/url]
el cialis produce impotencia
viagra online
13 September 2017 - 03:22:50 WIB

viagra surgery and anesthesia
viagra price
the blue pill herbal viagra
[url=http://www.augary.com/]buy viagra[/url]
how easily do doctors prescribe viagra
Link 12Bet
13 September 2017 - 13:50:45 WIB

Roulette is probably the games that kept it alive and continuously adjusting to the alterations caused by time.
Now you may bet around the remaining numbers without worrying about losing.

If you are a beginner and want to play Texas Hold'em poker, then you might
have to understand the guidelines first.
<< First | < Prev | ... 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | ... | 33 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)